Menemukan Ketenangan Jiwa: Mengapa Menghilang dari Media Sosial Saja Tidak Cukup?

by - Mei 20, 2026


Awalnya aku pikir diam saja sudah cukup. Tidak muncul di sosial media merupakan salah satu caranya. Tetapi ternyata, bukan itu yang membuat manusia menjadi tenang, melainkan merasa cukup.

Merasa cukup dengan dirinya, cukup dengan dunianya, dan juga cukup dengan lahir batinnya. Hanya itu. Ketenangan tidak datang dari absennya kita di dunia maya, melainkan dari hadirnya rasa syukur di dalam dada.

Saat Batinku Mulai "Berisik"

Ketika aku sudah mencoba tenang dan menjauh dari segala hal dunia tipu-tipu, ujian yang sesungguhnya justru datang dari dalam. Batinku mendadak berisik, membisikkan ego yang halus: “Kamu sudah lebih baik daripada orang lain.
"Astaghfirullah, jadi aku ini menghilang hanya ingin dicari?" monologku dalam hati.

Seketika aku tersadar. Perlahan, aku mencoba untuk benar-benar memahami diri sendiri. Bukan "menghilang" yang aku maksud, tetapi aku hanya merasa tidak perlu lagi menunjukkan apa pun kepada siapa pun. Hanya itu.

Sebuah Penyesalan dan Pelajaran Hidup

Jika menengok ke belakang, salah satu penyesalan terbesarku adalah sempat terlalu tampil di media. Awalnya aku merasa tidak apa-apa. Namun perlahan, aku merasa hatiku mulai mengeras, bagai batu.

Kerja sama dengan brand-brand besar membuat wajahku dipampang di mana-mana. Dan akulah yang mengizinkan itu terjadi. Saat ini, jika boleh jujur, itu adalah salah satu keputusan paling bodoh yang pernah aku buat.

Dampaknya nyata. Bukan hanya dijauhi oleh teman-teman di dalam lingkaran, tetapi aku juga dianggap sudah terlalu erat memeluk dunia. Allahu...

Memilih Jalan Sunyi: Menulis untuk Tenang

Maka dari itu, kini aku memilih untuk lebih banyak diam. Aku tidak lagi ingin menunjukkan apa pun kepada siapa pun. Melalui tulisan di blog pribadi ini—yang entah dibaca oleh siapa (aku pun tak tahu)—aku hanya ingin menyalurkan apa yang ada di kepalaku saat ini.

Maaf ya diriku, kalau aku sempat berbelok arah terlalu jauh dulu. Kita gapai ketenangan itu sekarang.

You May Also Like

0 komentar