Jurnal Juni: Cerita dari Bandung
Siang itu, hari yang kami tunggu-tunggu pun tiba. Kami berangkat ke Bandung menghadiri acara yang sakral nan khidmat, wisuda S2 suamiku di ITB Bandung. Kami sudah bersiap di shuttle travel. Sebenarnya, kami sudah stand by dari pagi saking terlalu semangatnya (baca: datang kepagian, hahaha). Begitu mobil datang, perjalanan dimulai. Mobil melaju sekitar 2,5 jam menuju Bandung pun dimulai. Setibanya di Pasteur, kami langsung melanjutkan perjalanan menggunakan taksi online menuju hotel.
Karena berangkat berlima, kami memilih hotel yang fasilitasnya itu room only alias hotel budget, hehe. Kebetulan aku yang kebagian tugas mencari penginapan saat itu, dan fokus utamanya adalah cari yang paling dekat dengan kampus suami. Biar ndak kesiangan dan lebih prepare di hari H.
Misi Utama: Merayakan Kelulusan Abi di ITB
Alhamdulillah, maasyaa Allah, setelah perjuangan selama 2 tahun lebih, akhirnya suami bisa menyelesaikan studi S2-nya di Institut Teknologi Bandung (ITB). Allahumma baarik. Tadinya aku berniat mengajak orang tuaku, namun qadarullah agendanya bertepatan dengan acara mereka di luar kota. Jadi, orang tuaku belum bisa hadir bersama kami.Hari pertama di Bandung kami habiskan dengan... rebahan! Tapi itu cuma sebentar, karena aku harus segera merapikan dan menyiapkan toga untuk dipakai keesokan hari. Kami pun tidur lebih awal supaya bisa bangun pagi dalam kondisi segar.
Drama Menuju Sabuga yang Tak Terlupakan
Hari H wisuda pun tiba. Suami bersama Ibu dan Bapak berangkat sangat pagi, sekitar pukul 06.00 WIB. Sementara aku masih bisa sedikit bersantai di kamar, karena rencananya aku baru akan menyusul ke Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB di siang hari saat prosesi wisuda dalam gedung sudah selesai. Untungnya, hotel yang kupilih memang sangat dekat dengan kampus, jadi jalurnya bisa ditempuh cukup dengan berjalan kaki.Namun, kejutan dimulai saat aku siap berangkat. Ternyata, jalan dari hotel menuju kampus harus melewati area perkampungan yang medannya cukup menantang: sempit, menurun, curam, dan satu lagi... licin!
Baru berjalan sekitar seperempat perjalanan menuju Sabuga, Qadarullah aku terpeleset dan jatuh terduduk. Seketika itu juga pandanganku gelap. Sekujur tubuh terasa dingin, dan telinga rasanya tiba-tiba sunyi senyap.
Alhamdulillah, saat itu aku tidak hanya berdua dengan anakku. Di depan kami ada rombongan keluarga lain yang juga mau berangkat ke Sabuga. Atas pertolongan Allah yang menghadirkan mereka di waktu yang tepat, aku dituntun mereka dengan perlahan hingga sampai ke gedung Sabuga.
Tadinya mereka sempat menawarkan untuk mengantarku ke IGD terdekat karena badanku sangat dingin dan jalannya tertatih-tatih. Tapi aku menolak. Aku tetap bertahan demi bisa hadir di momen berharga suamiku. Semoga keluarga yang membantuku di hari itu Allah berikan sebaik-baik balasan, bantalnya selalu dingin, torennya selalu penuh, gasnya ga pernah bocor, makanannya selalu hangat, saldo rekeningnya ga pernah habis, aamiin yaa Allah.
Kamu Dirayakan, Abi!
Setibanya di sana, tak berapa lama suamiku keluar dari gedung. Kami langsung menyambutnya dan memberikan buket bunga sebagai ucapan selamat dan terima kasih karena telah melalui perjuangan perkuliahan dengan sangat baik.Tentu ini bukan hal yang mudah, karena selain kuliah, beliau juga berjuang sebagai pencari nafkah utama keluarga. Kamu berhasil, Abi! We proud of you! <3
Setelah prosesi selesai dan suasana agak renggang, kami menyempatkan diri melipir ke bangunan ikonik ITB untuk mengabadikan momen indah ini, lalu segera kembali ke hotel.
Penutup Perjalanan dan Catatan dari "Jurnal Juni"
Kunjungan ke Bandung kali ini memang tidak banyak diisi dengan agenda wisata karena waktunya yang sempit. Di hari ketiga, kami menyempatkan diri berkunjung ke rumah saudara Ibu di Cianjur. Di sana kami baru mengetahui kalau beliau ternyata sedang sakit keras. Semoga Allah segera mengangkat penyakitnya. Aamiin yaa mujibassailin.Selesai sudah perjalanan singkat kami! Semoga lain kali kami bisa kembali lagi ke Bandung untuk mengukir momen indah lainnya.
Satu hal yang belum terlaksana kemarin adalah wisata kuliner. Aku kangen banget pengin makan surabi Bandung yang terkenal itu. Tapi saking sudah lamanya—terakhir ke Bandung pas zaman kerja dulu—aku sampai lupa nama tempatnya apa, hahaha. Ada yang tahu?
Oiya, karena bulan ini sudah memasuki bulan Juni yang merupakan bulan kelahiranku, aku berniat membuat segmen blog baru di sini dengan judul "Jurnal Juni". Tunggu kisah-kisah menarik lainnya di Jurnal Juni, ya!
See you!
Plot Twist : Pasca-Kejadian Terpeleset (Catatan Tambahan)
P. S: Pasca-kejadian kepleset di jalan curam itu, aku akhirnya harus berobat ke dokter ortopedi dan dokter saraf karena rasa sakitnya tidak kunjung hilang selama hampir sebulan.Alhamdulillah, setelah hasil rontgen keluar, dokter menyatakan semuanya baik-baik saja dan hanya masalah otot yang tegang. Tapi jujur, efeknya masih terasa sampai hari ini. Aku belum bisa duduk terlalu lama atau salah posisi duduk, karena rasanya bisa langsung ngilu dan pegal sebadan-badan.
Yuk, jaga kesehatan kalian ya! Dan jangan lupa jaga berat badan ideal juga, karena kalau badan berisi lalu jatuh, rasanya super mantap... Huhuhu.

0 komentar