• Beranda
  • Review
  • Perjalanan
  • Jurnal Juni
About instagram

ayulinsar.com - Teman Ceritamu

Tak terasa waktu hampir memasuki tahun ajaran baru. Sedangkan anak lanangku belum tes siswa baru di sekolah barunya. Yap, tahun ini dia tepat berusia 6 tahun, kami memutuskan untuk memasukkan ia ke sekolah dasar. Untuk alasannya kenapa masuk SD-nya tidak 7 tahun saja, biarkanlah kami simpan hanya untuk kalangan sendiri. Cailah.

Karena hal demikian, aku dan anakku berangkat ke Cirebon menemui Abinya untuk lihat-lihat sekolah baru di sana. Jauh-jauh hari aku sudah pesan tiket kereta api jurusan Pasar Senen-Cirebon Prujakan.

Namun, tepat sehari sebelum keberangkatan, qadarullahnya ada berita duka. Terjadi kecelakaan di gerbong KRL dengan Argo Bromo Anggrek di stasiun Bekasi Timur. Awalnya aku mengira perjalanan KA jarak jauh akan terhambat atau dibatalkan. Namun, setelah memantau kanal media sosial resmi KAI, kereta yang akan aku naiki tidak termasuk yang dibatalkan perjalanannya. Aku berprasangka baik bahwa kereta akan berangkat sesuai jadwalnya.

Detik Demi Detik Menunggu di Stasiun

Kipas angin di ruang tunggu stasiun Senen yang segede gaban itupun tak bisa menghalau sesaknya penumpang saat itu. Kami semua sedang menanti hal yang belum pasti. Aku tak diam saja, kuberanikan diri untuk bertanya ke petugas, katanya, "kereta akan tetap berangkat, namun sedang dalam antrian untuk masuk ke stasiun senen".

Baiklah, kami menunggu kembali.
Satu jam.
Dua jam.
Hingga 5 jam.

Akhirnya Menyerah dan Pilih Refund Tiket

Aku menyerah menunggu, kereta yang harusnya berangkat pukul 08.55 WIB itupun belum juga datang. Aku yang sudah tiba di stasiun sejak pukul 7 pagi pun makin gusar. Masalahnya, aku berdua dengan anak. Jika sendiri, aku mungkin masih kuat menunggu.

Hamdalah selalu sedia pulpen di tas, ga perlu pinjem pulpen orang deh
Oiya, selama di Stasiun Pasar Senen, banyak media yang hadir wara-wiri meliput kondisi ramai penumpang kala itu. Baik dari media televisi maupun berita online. Aku yang saat itu duduk ngemper pun tak terhindarkan dari potret wartawan saat itu. Haha. Pulang dari stasiun, aku iseng cek berita dan ternyata ada foto aku dan anakku di sana. Ya ampun penumpang gabut.

Masuk CNN jalur penumpang ngemper

Hikmah di Balik Pembatalan Rencana

Akhirnya aku putuskan ke Cirebon naik bus saja dari Pasar Rebo keesokan harinya. Fyuh. Saat tiba di rumah, aku cari kabar di Thread ternyata keretaku tetap berangkat, namun keberangkatannya ba'da magrib yang dimana akan sampai di Cirebon sekitar jam 10 malam. Ahh tidak! Terlalu menyeramkan. Apalagi jika perjalanan hanya berdua dengan anak-anak.

Dari perjalanan ini aku belajar, bahwa tidak semua rencana kita harus terlaksana. Terkadang beberapa dibatalkan karena ada hal yang lebih baik untukmu, dan ada pelajaran di dalamnya. Terkadang juga di antara waktu menunggumu yang melelahkan itu ada pundi-pundi pahala yang mengalir berkat kesabaranmu dalam menunggu.

Ayulinsar | Condet 16 Juni 2026
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Siang itu, hari yang kami tunggu-tunggu pun tiba. Kami berangkat ke Bandung menghadiri acara yang sakral nan khidmat, wisuda S2 suamiku di ITB Bandung. Kami sudah bersiap di shuttle travel. Sebenarnya, kami sudah stand by dari pagi saking terlalu semangatnya (baca: datang kepagian, hahaha). Begitu mobil datang, perjalanan dimulai. Mobil melaju sekitar 2,5 jam menuju Bandung pun dimulai. Setibanya di Pasteur, kami langsung melanjutkan perjalanan menggunakan taksi online menuju hotel.

Karena berangkat berlima, kami memilih hotel yang fasilitasnya itu room only alias hotel budget, hehe. Kebetulan aku yang kebagian tugas mencari penginapan saat itu, dan fokus utamanya adalah cari yang paling dekat dengan kampus suami. Biar ndak kesiangan dan lebih prepare di hari H.

Misi Utama: Merayakan Kelulusan Abi di ITB

Alhamdulillah, maasyaa Allah, setelah perjuangan selama 2 tahun lebih, akhirnya suami bisa menyelesaikan studi S2-nya di Institut Teknologi Bandung (ITB). Allahumma baarik. Tadinya aku berniat mengajak orang tuaku, namun qadarullah agendanya bertepatan dengan acara mereka di luar kota. Jadi, orang tuaku belum bisa hadir bersama kami.

Hari pertama di Bandung kami habiskan dengan... rebahan! Tapi itu cuma sebentar, karena aku harus segera merapikan dan menyiapkan toga untuk dipakai keesokan hari. Kami pun tidur lebih awal supaya bisa bangun pagi dalam kondisi segar.

Drama Menuju Sabuga yang Tak Terlupakan

Hari H wisuda pun tiba. Suami bersama Ibu dan Bapak berangkat sangat pagi, sekitar pukul 06.00 WIB. Sementara aku masih bisa sedikit bersantai di kamar, karena rencananya aku baru akan menyusul ke Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB di siang hari saat prosesi wisuda dalam gedung sudah selesai. Untungnya, hotel yang kupilih memang sangat dekat dengan kampus, jadi jalurnya bisa ditempuh cukup dengan berjalan kaki.

Namun, kejutan dimulai saat aku siap berangkat. Ternyata, jalan dari hotel menuju kampus harus melewati area perkampungan yang medannya cukup menantang: sempit, menurun, curam, dan satu lagi... licin!

Baru berjalan sekitar seperempat perjalanan menuju Sabuga, Qadarullah aku terpeleset dan jatuh terduduk. Seketika itu juga pandanganku gelap. Sekujur tubuh terasa dingin, dan telinga rasanya tiba-tiba sunyi senyap.

Alhamdulillah, saat itu aku tidak hanya berdua dengan anakku. Di depan kami ada rombongan keluarga lain yang juga mau berangkat ke Sabuga. Atas pertolongan Allah yang menghadirkan mereka di waktu yang tepat, aku dituntun mereka dengan perlahan hingga sampai ke gedung Sabuga.

Tadinya mereka sempat menawarkan untuk mengantarku ke IGD terdekat karena badanku sangat dingin dan jalannya tertatih-tatih. Tapi aku menolak. Aku tetap bertahan demi bisa hadir di momen berharga suamiku. Semoga keluarga yang membantuku di hari itu Allah berikan sebaik-baik balasan, bantalnya selalu dingin, torennya selalu penuh, gasnya ga pernah bocor, makanannya selalu hangat, saldo rekeningnya ga pernah habis, aamiin yaa Allah.

Kamu Dirayakan, Abi!

Setibanya di sana, tak berapa lama suamiku keluar dari gedung. Kami langsung menyambutnya dan memberikan buket bunga sebagai ucapan selamat dan terima kasih karena telah melalui perjuangan perkuliahan dengan sangat baik.

Tentu ini bukan hal yang mudah, karena selain kuliah, beliau juga berjuang sebagai pencari nafkah utama keluarga. Kamu berhasil, Abi! We proud of you! <3


Setelah prosesi selesai dan suasana agak renggang, kami menyempatkan diri melipir ke bangunan ikonik ITB untuk mengabadikan momen indah ini, lalu segera kembali ke hotel.

Penutup Perjalanan dan Catatan dari "Jurnal Juni"

Kunjungan ke Bandung kali ini memang tidak banyak diisi dengan agenda wisata karena waktunya yang sempit. Di hari ketiga, kami menyempatkan diri berkunjung ke rumah saudara Ibu di Cianjur. Di sana kami baru mengetahui kalau beliau ternyata sedang sakit keras. Semoga Allah segera mengangkat penyakitnya. Aamiin yaa mujibassailin.

Selesai sudah perjalanan singkat kami! Semoga lain kali kami bisa kembali lagi ke Bandung untuk mengukir momen indah lainnya.

Satu hal yang belum terlaksana kemarin adalah wisata kuliner. Aku kangen banget pengin makan surabi Bandung yang terkenal itu. Tapi saking sudah lamanya—terakhir ke Bandung pas zaman kerja dulu—aku sampai lupa nama tempatnya apa, hahaha. Ada yang tahu?

Oiya, karena bulan ini sudah memasuki bulan Juni yang merupakan bulan kelahiranku, aku berniat membuat segmen blog baru di sini dengan judul "Jurnal Juni". Tunggu kisah-kisah menarik lainnya di Jurnal Juni, ya!

See you!

Pasca-Kejadian Terpeleset (Catatan Tambahan)

P. S: Pasca-kejadian kepleset di jalan curam itu, aku akhirnya harus berobat ke dokter ortopedi dan dokter saraf karena rasa sakitnya tidak kunjung hilang selama hampir sebulan.

Alhamdulillah, setelah hasil rontgen keluar, dokter menyatakan semuanya baik-baik saja dan hanya masalah otot yang tegang. Tapi jujur, efeknya masih terasa sampai hari ini. Aku belum bisa duduk terlalu lama atau salah posisi duduk, karena rasanya bisa langsung ngilu dan pegal sebadan-badan.

Yuk, jaga kesehatan kalian ya! Dan jangan lupa jaga berat badan ideal juga, karena kalau badan berisi lalu jatuh, rasanya super mantap... Huhuhu.


Ayulinsar | Condet, 01 Juni 2026
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Aku Akan Kembali, bi idznillah...


Wah maasyaa Allah tak terasa sudah sampai part 4. Biasanya mood nulis yang macet-macetan ini selalu menang. Akhirnya ketulis juga, sebelum momennya bubar. Wkwkwk. Jadi tibalah kita hari hampir terakhir trip keliling Jogja, karena lusanya sudah harus pulang ke rumah. Kembali pada kenyataan. Tujuan trip terakhir hari ini adalah Mangunan dan pantai Parangtritis (pantai terdekat yang bisa dijangkau).

Lagi-lagi karena tujuannya berbeda-beda. Hanya aku, Opi, Fani, dan Mbak Eni yang pergi duluan pagi-pagi ke Mangunan. Jangan tanya ini siapa yang nentuin, Opi lah. Hahaha, dia yang kebelet banget pengen ke Mangunan, aku pribadi mah  ikut aja. Karena referensiku terbatas.

"Lihat nih bu Ay di ige, bagus dah"

"Mana, lihat, aku kan tak bisa lihat ige lagi"

Kemudian kalimat Opi selalu gini.

"Ah dikau sih". Hahahaha.

Perjalanan ke Mangunan, kita pilih lewat jalan desa gitu. Terlihat seperti jalan menuju puncak, gemilang cahaya, mengukir cita seindah asa. LHO kok jadi nyanyi. Jalanan yang berkelok-kelok ditambah kanan-kiri sawah, perbukitan yang menyegarkan mata. Oooo indahnya pemandangan. Mirip-mirip rute ke puncak deh. Segernya, hijaunya, relief alamnya. Kalau puncak itu naik dan berkelok-kelok. Nah ke Mangunan, dari tempat nginepku itu luruuuus aja. Tetap berada di jalan yang lurus guys. 😇

Ada sih videonya, tapi aku khawatir tak bisa merepresentasikan dengan tepat apa yang aku lihat di sana.

Tiba di Kebun Buah Mangunan, masuknya kita agak bingung gitu ya. Karena ada beberapa tempat di Mangunan, seperti hutan pinus, rumah hobbit dan beberapa objek wisata lainnya. Jadi ketika kalian pakai maps untuk menuju ke sini, di depan ada kayak tugu (?) gitu buat nunjukin tempat wisata di Mangunan ada beberapa, nah dari tulisan itu, kita belok kanan, lanjut naik. Nah sebelah kiri ada objek wisata 'Watu Goyang' kalo ndak salah. Duh duh duh, daritadi kalo ndak salah mulu. Maafkan yah kalau aku suka lupa, maklum manusia biasa. Tempatnya khilaf dan salah 🙏😅. Dari Watu Goyang, kita naik ke atas lagi. Lalu di sebelah kanan ada seperti penunjuk jalan gitu ke arah Kebun Buah Mangunan. Nah kita ikutin aja deh petunjuknya. Lumayan nanjak jalannya.

Karena sudah 2 bulan berlalu, aku lupa tiket masuk kebun buahnya berapa ya? Apa gak bayar ya? Ah kalaupun bayar, di sini mah ga mahal deh pokoknya, ga sampe jual ginjal kok buat traveling doang. Wkwk. Pemandangannya luar biasa! Sejuknya juga luar biasa! Nih aku kasih liat foto-fotonya.

Mangunan ini terkenal dengan slogan "Negeri di Atas Awan", tapi ketika kita ke sana. Kabutnya gak ada. Hweee 😭 gapapa sih yang penting sudah menjejak di sana.

Ekspektasinya....... by: google
Realita... Tapi view aslinya bagus banget. Serius deh!
Sedang memantau, kamu.
google.com
Ohya, ada kisah menarik di sini. Jadi kita ketemu satu keluarga, Ibu sama 3 anaknya. Lagi menghafal Quran gitu. Lucu deh, ada yang sambil nangkring di pohon hafalannya. Ada yang sambil main-main sama saudaranya. Ah pemandangan the best deh.

Setelah puas, kita lanjut jalan lagi. Penasaran sama hutan pinus dan kabarnya ada rumah hobbit di bawah dalemnya tugu (?) yang kita lewatin tadi. Tiket masuk rumah hobbit lumayan murah. Satu orang kena bayar tiket 2500, sama motor 5000. Jadi cuma 10000 berdua. Satu hal yang KAMU HARUS BANGET TAU. Kalau spot foto di sisi banyak! Juga gak bayar per spotnya. Jadi terserah dah tuh mau sampe encok, naik turun bukit. Foto sampe 10 jari, endesbre endesbre itu sampe kaki bengkak juga ga dipungut biaya tambahan. Tydac seperti salah satu wilayah hutan pinus di Bogor yang kini sudah dipatok harga tinggi-tinggi sekali per spotnya. 😆

Kalo punya rumah model begini, kesandung tiap pagi adalah sebuah keniscayaan. :v
Dia lagi, dia lagi.
Ah banyak cerita di sini sebenernya, Fani yang sudah mulai lelah. Entah lelah fisik atau lelah perasaan. Hihi. Mulai dari di Kebun Buah tadi dia sudah tidak terlalu excited. Karena dari awal, die ke Jogja cuman pengen ke 'Jogokariyan', dahsyat ga tuh. Solehah banget umi-ku yang satu ini. Yang dituju hanyalah sebuah masjid. Sedangkan gue? Apasi tujuan gue ke Jogja. Fana banget pokoknya. Melarikan diri kayaknya sih. Dari kejamnya dunia. Hahaha. 🤣

Kita lanjut aja yah, skip ke Parangtritis, nah di sini kita sempet di sasarin sama gugel maps. Tapi ini pengalaman nyasar 'terindah' yang pernah aku rasakan. Coba dong, pemandangannya kayak begini. 😍 Gimana gak bahagia kita kan.

Pojok kanan, anak ilang. Wkwk.
Opi dan objek fotonya.

Kemudian sampailah kita ke Pantai. Aku suka semilir senja di sini. Pantai itu selalu menenangkan. Meski aku selalu takut melihat ombaknya. Tapi pasti ingin kembali lagi. FYI: jadi sebelum masuk wilayah pantai, kamu akan memasuki gerbang kerajaan yang akan dikenai bayaran jika ingin masuk. Sekitar 15.000 satu orang, dan begitu masuk pantainya, kena biaya parkir lagi yang lumayan lah ya, berapa ya? Sekitar 10ribu? Aku lupa.

Andong dan Senja
Senja dan kita.
=====

Ekstra part:

Hari terakhir, kita berniat mampir ke kota, beli oleh-oleh. Batik, bakpia, dll. Dan sumpah ya, di Jogja kemarin bener-bener nurut senurut-nurutnya kita sama gugel maps. Sampe mau beli bakpia aja nyasarnya setengah jam. Wkwkwk.

Tapi aku sangat berterimakasih sama dunia modern saat ini, ga kebayang kalau traveling nya jaman dulu. Tiap beberapa meter ngebet peta lebar-lebar, di teras rumah mbah-mbah. Kan lama ya buk, itu mau jalan-jalan apa nyari harta karun etdah. Hahaha.

Ehya, di Pasar Beringharjo kemarin aku nemu harta karun dong! Sate kikil di sini ENAAAAAKKKKK ya Allah, nikmat mana lagi yang aku dustakan. 😭 Aku sampe detik ini langsung ngiler ngebayangin betapa 'syurga'nya itu sate kikil.

Ini pelaku yang membuatku pengin balik lagi ke sini!
Pulangnya kita mampir ke Masjid Gedhe Kauman, yang letaknya dekat Alun-alun Jogjakarta.

Khas banget!
Terus, kita pulang deh. Packing untuk besok pulang naik kereta.

Sumpah! Kita udah mandi kok. Hahaha!
=====

Demikianlah kisahku. Sebuah perjalanan yang..... biasa sih, ga se-ekstrim naik gunung atau keliling Indonesia gratis dengan nebeng dari truk ke truk gitu seperti petualangan yang menantang lainnya. Tapi, aku bahagia, karena salah satu hutangku pada diri sendiri, LUNAS! Aku bangga! Receh banget sih emang. Tapi yakin, perjalanan ini sungguh membuatku merengkuh berkah luar biasa, mensyukuri nikmat sebaik-baiknya, dan mendewasakan perasaan lewat pengalaman dan mengamati orang-orang di sekitar.

Jazaakumullah khairan katsir, atas rekan-rekan seperjalanan. Terutama Erma dan keluarga yang sudah menampung kami di rumah simbah. Fani, Septi, Kim, Mbak Eni, Hevi yang sudah support, mulai dari sewa motor, bantuin soal tiket kereta, kebersamaannya tiap sarapan di atas daun pisang. Memori daun pisang~ Lalalalalalaaaa~ Opiii, terima kasih juga atas pembelajaran fotografinya dan cerita-ceritamu yang membuatku belajar menelisik satu kisah dalam sudut pandang yang berbeda.

Next, (Insyaa Allah) aku akan kembali ke Jogjakarta. Mungkin dengan tema wisata kuliner? Agar lebih mancay. Atau ke tempat baru? Lombok atau Raja Ampat gitu kan, suasana baru, dan rekan perjalanan yang baru? Mungkin sama kamu? 😎 Who knows? Takdir tak pernah salah memilih pemainnya, kan.

Apasih, gaje. Hahaha.

Yang jelas, aku tak ingin lagi pakai carrier. Titik!
Berat, tak sanggup. Dilan aja juga ga kuat kayaknya. 🤣

Bhay!
See ya!

Sampai jumpa lagi di lain cerita. Jangan lupa cek pembaruan di blog aku. Siapa tahu ada kamu dalam salah satu kisahku? 😏

Cerita sebelumnya:
1. My Trip My Tadabbur - Jogjakarta Part 1
2. My Trip My Tadabbur - Jogjakarta Part 2
3. My Trip My Tadabbur - Jogjakarta Part 3

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Syukurmu harus bertambah-tambah!
Disclaimer: Tulisan ini sepenuhnya adalah pengalaman pribadi penulis. Untuk yang ingin tahu lebih mendalam tentang beberapa tempat yang akan disebutkan di bawah, maka dipersilahkan untuk mencari referensi lain sebanyak-banyaknya yaaaa. :)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Alhamdulillah, sampe juga!!!

Ciye naik kereta jauh ciye...

Perjalanan di kereta memakan waktu 8 jam lebih. Berangkat pukul 7.15, sampai di Lempuyangan sekitar pukul setengah lima sore. Ya ngaret, gapapa. Aku tetep happy kok. Tahu ndak, aku menyesal kenapa ndak jadi bawa koper, dan gaya-gayaan bawa carrier karena di suruh adek. Huhuhu. Berat kali. Aku ndak lagi-lagi deh, serius!

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Perjalanan menuju Jogjakarta

Hai, Assalamu'alaikum!
Apa kabarnya nih gaes, sudah akhir tahun, btw gimana resolusi? Sudah tercentang semua kah? Apa kayak aku yang salah satu resolusi terbesar tahun ini masih berselimut tanya yang besar. Hahaha. Apapun itu, semoga apa yang kamu rencanakan sejalan dengan ridhoNya yaa. Aamiin. Kalau ndak tercapai tahun ini ya tahun depan lah. Insyaa Allah, semoga dimudahkan. Yang penting niat sama ikhtiarnya dulu, soal hasil? Serahkan sama Allah. Dia tahu yang terbaik untuk hambaNya.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

Dikunjungi

Arsip

Pencarian

Media Sosial

  • Facebook
  • Threads
  • Instagram

Terbanyak Dilihat

  • Waspadai Anemia : Indonesia Bebas Anemia!
    Hallo generasi sehat bebas anemia! Sudah makan makanan bergizi hari ini? Kalau makan hanya sekedar makan, tidak cukup lho untuk mencegah an...
  • Wajib Punya! Implora Day to Day Series
    Dua puluh empat jam sehari tampaknya tak cukup untuk memenuhi seluruh rencana kita sehari-hari. Tapi kalau pakai Implora Day to Day series i...
  • My Trip My Tadabbur - Jogjakarta Part 1
    Perjalanan menuju Jogjakarta Hai, Assalamu'alaikum! Apa kabarnya nih gaes, sudah akhir tahun, btw gimana resolusi? Sudah tercen...
  • HINT Noble : Pilihan Aroma Parfum Mahal Khas Bangsawan di Era Modern
    Siapa yang suka penasaran sama parfum yang suka dipakai kaum bangsawan tuh kayak gimana sih? Apakah sama dengan kita kaum mendang mending? H...
  • Tangkis Matahari dengan Perfect! Implora Perfect Shield Sunscreen
    Hai everyone! Hari gini siapa sih yang ga kenal sunscreen? Bahkan ibu mertuaku aja sudah aku perkenalkan dengan jenis skincare yang satu ini...

Kategori

  • Tulisan (59)
  • Nasihat Diri (39)
  • Kenangan (18)
  • Review (16)
  • Beauty (9)
  • My Pregnancy (8)
  • Kisah Perjalanan (6)
  • Jurnal Juni (4)
Diberdayakan oleh Blogger.

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates