Perjalananku Menjemput VBAC: Bukan Sekadar Ingin Normal, Tapi Tentang Memberdayakan Diri

by - Mei 04, 2026


Bismillah 

Semua ini bermula setelah momen melahirkan anak pertama. Sejujurnya, di dalam hati kecil, aku punya niat yang kuat banget untuk bisa melahirkan secara pervaginam (normal) di persalinan berikutnya.

Kalau ditanya niatnya apa? Awalnya aku pikir karena trauma induksi yang berujung SC, atau mungkin karena nggak tahan sama proses pemulihan luka SC yang lumayan lama. Tapi setelah direnungkan lagi, ternyata alasan itu kurang tepat.

Akhirnya, aku coba perbaiki niatku. Aku ingin melahirkan sesuai fitrah, minim intervensi medis, merasa nyaman, bisa langsung IMD (Inisiasi Menyusu Dini), dan pastinya didampingi suami tercinta. Hal-hal kayak gini (setidaknya saat ini) emang paling ideal dirasakan lewat persalinan normal. Nah, kalau niatnya sudah mantap, langkah selanjutnya adalah ikhtiar maksimal!

Langkah Pertama: Ikhtiar Ilmu & Pola Makan

Sebelum dan selama hamil, aku bener-bener "makan" ilmu. Aku cari tahu info sebanyak-banyaknya soal VBAC. Aku follow akun Instagram @ceritavbac, rajin baca pengalaman teman-teman pejuang VBAC di grup Telegram, gabung grup support dari @temanbumil, sampai langganan nonton YouTube-nya @bidankita, @jamilatus.sadiyah, dan @guesehat. Pokoknya Knowledge is Power!

Selain otak yang dikasih asupan, perut juga dijaga. Prinsipku: ibu hamil itu makannya harus 2x lebih sehat, bukan 2x lebih banyak. Aku mulai minimalisir ultra-processed food, rajin makan kurma dan madu, serta ngurangin yang manis-manis kayak boba atau karbo berlebih. Sebagai gantinya, aku perbanyak protein, wajib makan buah, minum air putih minimal 3 liter sehari, plus tambahan vitamin C karena aku punya riwayat KPD (Ketuban Pecah Dini).

Berburu Provider yang "Satu Frekuensi"

Jujur, nyari dokter yang pro VBAC itu tantangan tersendiri. Aku sempat ganti-ganti dokter, total ada 4 dokter yang aku datangi (termasuk dokter rujukan BPJS). Tapi rasanya nggak ada yang benar-benar klik. Jawabannya selalu "ngambang", nggak nolak tegas tapi juga nggak mendukung penuh.

Akhirnya di usia kandungan 34-35 minggu (yang rasanya kayak dikejar deadline) aku minta ijin suami buat cari tempat lain. Pilihannya ada Klinik Cikal Mulia Cawang atau Klinik Anny Rahardjo. Setelah drama jadwal yang nggak pas di Cikal, akhirnya Qadarullah pilihanku jatuh ke Klinik Anny Rahardjo. Alhamdulillah, suami ridho!

Ikhtiar Fisik: Banyak Gerak itu Wajib!

Buat kalian yang juga pejuang VBAC, aku saranin banget buat survey provider dari awal. Tapi kalaupun belum nemu dokter yang pas, jangan menyerah. Kita bisa berdayakan diri sendiri. Prinsipku, pokoknya di RS nanti cuma "numpang lahir" aja, jadi persiapan fisiknya harus matang dari rumah.

Ketika masuk usia kehamilan 34 minggu, aku mulai rutin gerak. Ada beberapa hal yang aku lakukan di periode ini, antara lain:

• Jalan kaki & power walk
• Butterfly pose (minimal 20x, dicicil tiap habis shalat).
• Squat (minimal 20x, dicicil juga habis shalat)
• Jalan jongkok dan main gymball

Lalu pas masuk minggu ke-35, aku mulai ikhtiar induksi alami dengan cara:

• Makan kurma ruthob & nanas
• Minum air dengan PH tinggi
• HB (berhubungan)
• Pijat perineum & Moxa

Intinya, jangan malas cari tahu. Berdayakan diri dengan pengetahuan dan ikhtiar yang maksimal. Semangat ya buat para pejuang VBAC lainnya!

You May Also Like

0 komentar