• Beranda
  • Review
  • Perjalanan
  • Jurnal Juni
About instagram

ayulinsar.com - Teman Ceritamu

Banyak yang bilang, sekali SC bakal seterusnya SC. Tapi pengalamanku di tahun 2024 ini membuktikan kalau impian buat melahirkan normal alias VBAC (Vaginal Birth After Cesarean) itu bukan hal yang mustahil. Lewat tulisan ini, aku mau berbagi roller coaster perjuanganku melahirkan si kecil Asha.

Day 3 jadi ibu anak dua ✌🏻 

USG Terakhir: Sempat Bikin Ketar-Ketir

Semua dimulai saat kontrol kandungan tepat di usia 36 minggu. Waktu itu keluhanku cuma nyeri di tulang kemaluan, yang aku pikir cuma nyeri SPD biasa kayak hamil pertama dulu. Tapi jujur, ada perasaan curiga juga karena kok rasa pengen pipisnya sering banget, bisa tiap 1-2 jam sekali karena kepala janin sudah masuk panggul.

Pas diperiksa Dokter Budi (obgyn di Klinik Anny Rahardjo), aku kaget banget, ternyata BBJ (Berat Badan Janin) menurut USG saat itu sudah menyentuh angka 3,8 kg. Padahal ini baru usia kehamilan 36 minggu, kebayang nggak gimana kalau nanti sampai HPL? Jujurly takoed banget tetiba 4 kilo dong. Dokter Budi cuma bilang biasanya kalau mau VBAC, BBJ anak kedua nggak boleh lebih besar dari anak pertama (sedangkan aku dulu, BB anak pertamaku pas lahir cuma 3,2 kg). Maw nangis! 

"Ikhtiar" Diet Ketat Demi Lahiran Normal

Pulang dari kontrol, aku langsung dapet "PR" besar: 
STOP KARBO DAN STOP MINUM MANIS! 
Asli, ini berat banget karena aku nggak bisa kalau tanpa nasi. Bayangin, lagi hamil besar tapi harus makan tanpa karbohidrat, cuma sayur, protein, dan buah. Rasanya bosen banget sampai pengen nangis. Tiap habis shalat aku cuma bisa berdoa: "Ya Allah, semoga bayinya nggak kegedean, dan dek bayi jangan lama-lama di dalam ya." Aku bahkan sampai pasang wallpaper HP bertuliskan pengingat diet ketat itu supaya tetap semangat afirmasi.

Wallpaper HP kala itu jadi saksi, wkwk!

Momen "Tiba-Tiba" Lahiran di Minggu ke-37

Masuk usia kehamilan 37 minggu 4 hari, tepat di hari Rabu, 13 Desember 2024 dini hari pukul 3 pagi, aku terbangun karena mules. Awalnya kupikir cuma pengen pup aja, beres pup eh ternyata ada lendir darah yang keluar dari jalan lahir. Kaget? Jelas! Karena di kehamilan pertama dulu nggak pernah ngerasain ini.

Aku coba tenang dan berusaha rileks, inget kata teman-teman di grup bumil VBAC kalau lendir darah nggak selalu berarti langsung lahiran hari itu juga. Tapi sampai subuh, kontraksi makin terasa beda. Jam 6 pagi ada sensasi luar biasa di daerah pinggang, b*kong, menjalar ke kaki, plus perut keras sekeras jidat. Dari yang awalnya masih bisa santai, sambil nyuapin anak pertama, mandiin anak, bisa tuh nahan kontraksi sambil senyum, sampai akhirnya denger orang ngomong aja jadi emosi hahaha. Langsung saat itu juga udah merasa gak bisa lama-lama stay di rumah.

Aku berangkat ke Klinik bertiga dengan anak pertama dan ibu mertua, waktu itu diantar tetangga naik mobil. Alhamdulillah ada yang bisa anterin saat itu. Suami kemana? Beliau otw saat dikabari detik itu juga, dari Cirebon. Sepanjang perjalanan ga berhenti doa minta dilancarkan, doa "hana waladat maryam" sambil bersahut-sahutan dengan istighfar. Jujurly aduhai sekali kontraksi asli ini.

Detik-Detik Menuju Pembukaan Lengkap

Sampai di Klinik Anny Rahardjo pukul 10 pagi, saat dicek pembukaan oleh bidan, alhamdulillah sudah pembukaan 4. Lalu dua jam kemudian sudah masuk bukaan 6.

Perjuangannya nggak main-main. Aku usahain tetap buka panggul dengan posisi jongkok, kaki dibuka lebar, terus goyang kanan-kiri. Kalau sudah nggak kuat, aku ubah posisi merangkak atau jalan jongkok. Saat itu orang tuaku sudah tiba dari Depok, suami juga tiba dari Cirebon. Alhamdulillah karena kamar di Klinik cukup besar dan saat itu termasuk sepi karena pasien hanya dua orang jadi hanya dua kamar yang terisi dari sekitar 6 atau 7 kamar yang tersedia (lupa aslinya berapa), jadi suasana jadi lebih privat. Seperti biasa, ibuku bantu mengusap-usap punggung. Sambil mulutnya tak henti berdoa.

Pukul 3 sore, pembukaan sempat macet (ternyata karena kandung kemihku penuh tapi nggak bisa pipis). Akhirnya diputuskan untuk masuk induksi setengah dosis. Setengah jam kemudian, pembukaan langsung naik ke 8! Ketuban dibantu pecahkan, pembukaan lengkap, dan akhirnya pukul 16.00, si cantik Asha lahir ke dunia dengan BB 3,5kg (lebih gembul dari abangnya). Legaaaaaaa!

Impian Tercapai: Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

Salah satu hal yang bikin aku bersyukur banget adalah tempat melahirkanku, Klinik Utama Anny Rahardjo, bener-bener support VBAC banget. Setelah lahir, Asha langsung IMD. Bahkan aku bisa dapet prosedur Delayed Cord Clamping, alias penundaan pemotongan tali pusat.

Abang, adek, dan toples ari-arinya 🤍
Sakit nggak pas dokter menjahit luar dalam bagian bawah sana? Ojelas! Meskipun dibius, toleransi rasa sakit aku emang rendah banget. Tapi melihat anak, rasanya sakitnya jadi hilang dan worth it! 

Recovery: VBAC vs Caesar

Berapa lama sih pemulihan luka jahitan?
Jujur, minggu pertama setelah VBAC, rasa sakitnya masih berasa kayak waktu lahiran SC dulu. Tapi masuk minggu kedua, baru terasa enakan buat jalan, duduk, sampai salto (hiperbola aja ya wkwk)! Aku sudah bisa sat-set ngapa-ngapain, padahal dulu pas SC, sebulan aja aku belum bisa nyuci baju sendiri. Maasyaa Allah tabarakallah , nikmatnya bisa merasakan dua metode melahirkan di hidupku ini.

Jadi, cukup sekian birth story kehamilan keduaku yang penuh lika-liku perjuangan. Aku yakin setiap kehamilan ada ujiannya, ada perjalanan yang berkesan di tiap harinya. Anak pertama dan keduapun berbeda. Tapi di sini, aku bukan bermaksud membandingkan kedua proses melahirkan ya, ini hanya murni preferensi ataupun pilihan pribadi yang tiap orang berhak menentukan pilihannya masing-masing. Aku pernah SC dengan segala lebih kurangnya, aku pun pernah pervaginam dengan segala lebih kurangnya. Semua itu baik, selama tujuannya baik, dan Lillah.

Buat kalian para pejuang fitrah yang sedang menanti kehadiran buah hati dan sedang ikhtiar VBAC, semangat ya! Semoga dilancarkan dan semoga Allah segera hadirkan si kecil dalam pelukan kalian. Allahumma Aamiin.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Bismillah 

Semua ini bermula setelah momen melahirkan anak pertama. Sejujurnya, di dalam hati kecil, aku punya niat yang kuat banget untuk bisa melahirkan secara pervaginam (normal) di persalinan berikutnya.

Kalau ditanya niatnya apa? Awalnya aku pikir karena trauma induksi yang berujung SC, atau mungkin karena nggak tahan sama proses pemulihan luka SC yang lumayan lama. Tapi setelah direnungkan lagi, ternyata alasan itu kurang tepat.

Akhirnya, aku coba perbaiki niatku. Aku ingin melahirkan sesuai fitrah, minim intervensi medis, merasa nyaman, bisa langsung IMD (Inisiasi Menyusu Dini), dan pastinya didampingi suami tercinta. Hal-hal kayak gini (setidaknya saat ini) emang paling ideal dirasakan lewat persalinan normal. Nah, kalau niatnya sudah mantap, langkah selanjutnya adalah ikhtiar maksimal!

Langkah Pertama: Ikhtiar Ilmu & Pola Makan

Sebelum dan selama hamil, aku bener-bener "makan" ilmu. Aku cari tahu info sebanyak-banyaknya soal VBAC. Aku follow akun Instagram @ceritavbac, rajin baca pengalaman teman-teman pejuang VBAC di grup Telegram, gabung grup support dari @temanbumil, sampai langganan nonton YouTube-nya @bidankita, @jamilatus.sadiyah, dan @guesehat. Pokoknya Knowledge is Power!

Selain otak yang dikasih asupan, perut juga dijaga. Prinsipku: ibu hamil itu makannya harus 2x lebih sehat, bukan 2x lebih banyak. Aku mulai minimalisir ultra-processed food, rajin makan kurma dan madu, serta ngurangin yang manis-manis kayak boba atau karbo berlebih. Sebagai gantinya, aku perbanyak protein, wajib makan buah, minum air putih minimal 3 liter sehari, plus tambahan vitamin C karena aku punya riwayat KPD (Ketuban Pecah Dini).

Berburu Provider yang "Satu Frekuensi"

Jujur, nyari dokter yang pro VBAC itu tantangan tersendiri. Aku sempat ganti-ganti dokter, total ada 4 dokter yang aku datangi (termasuk dokter rujukan BPJS). Tapi rasanya nggak ada yang benar-benar klik. Jawabannya selalu "ngambang", nggak nolak tegas tapi juga nggak mendukung penuh.

Akhirnya di usia kandungan 34-35 minggu (yang rasanya kayak dikejar deadline) aku minta ijin suami buat cari tempat lain. Pilihannya ada Klinik Cikal Mulia Cawang atau Klinik Anny Rahardjo. Setelah drama jadwal yang nggak pas di Cikal, akhirnya Qadarullah pilihanku jatuh ke Klinik Anny Rahardjo. Alhamdulillah, suami ridho!

Ikhtiar Fisik: Banyak Gerak itu Wajib!

Buat kalian yang juga pejuang VBAC, aku saranin banget buat survey provider dari awal. Tapi kalaupun belum nemu dokter yang pas, jangan menyerah. Kita bisa berdayakan diri sendiri. Prinsipku, pokoknya di RS nanti cuma "numpang lahir" aja, jadi persiapan fisiknya harus matang dari rumah.

Ketika masuk usia kehamilan 34 minggu, aku mulai rutin gerak. Ada beberapa hal yang aku lakukan di periode ini, antara lain:

  •  Jalan kaki & power walk
  •  Butterfly pose (minimal 20x, dicicil tiap habis shalat).
  •  Squat (minimal 20x, dicicil juga habis shalat)
  •  Jalan jongkok dan main gymball
  •  Naik turun tangga dengan menyamping (kayak jalannya kepiting)

Lalu pas masuk minggu ke-35, aku mulai ikhtiar induksi alami dengan cara:

  •  Makan kurma ruthob & nanas
  •  Minum air dengan PH tinggi
  •  HB (berhubungan)
  •  Pijat perineum & Moxa

Intinya, jangan malas cari tahu. Berdayakan diri dengan pengetahuan dan ikhtiar yang maksimal. Semangat ya buat para pejuang VBAC lainnya!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Nama cantik yang kami persiapkan untuk kelahiran anak kedua kami, yang sejak usia kandungan 5 bulan dokter bilang bahwa janin kami berjenis kelamin perempuan.

"Wah selamat ya bu! Anaknya perempuan ini" ucap dokternya saat USG kala itu.

Aku yang sebelumnya tidak pernah menaruh ekspektasi terhadap apapun, sekalipun itu jenis kelamin bayiku sendiri, tiba-tiba melonjak bahagia. Istilahnya "Bungahku tembus tekan khayangan". Sejujurnya, laki-laki maupun perempuan sama saja. Sama-sama amanah Allah yang harus dijaga sebaik mungkin. Tapi rasanya kabar ini melengkapi kebahagiaan kami, lengkap sudah anak pertamaku laki-laki lalu adiknya kelak perempuan.

Hari-hari berlalu, kehamilan semuanya baik-baik saja tanpa kendala berarti. Meski berat karena kehamilan kali ini aku dan suami harus menjalani rumah tangga jarak jauh alias LDM (Long Distance Marriage) tapi tidak masalah karena aku disini dijaga oleh mertua dan orangtua. Alhamdulillah kehadiran mereka sungguh meringankan bebanku.

Tidak banyak perintilan bayi yang aku siapkan untuk anak kedua ini, baju-baju newborn abangnya masih bagus karena hanya dipakai sebentar. Kami hanya fokus menyiapkan kelahiran. Mengupayakan untuk melahirkan secara pervaginam setelah kehamilan sebelumnya melahirkan secara caesar, alias VBAC. Mulai masuk support grup, menyiapkan segalanya sematang mungkin.

Soal nama, Ashalina Nur Mardhiyyah ini hasil diskusi aku dan suami. Aku ingin sekali punya keluarga yang inisialnya sama yakni huruf A, berawal dari ketidaksengajaan inisial namaku dan suami sama. Dari situ, aku yang dulu pernah mengajar di SD, terpikir nama murid-muridku yang cantik dan pintar di kelas. Salah satunya ada yang namanya cantik. Aku putuskan memilih nama tersebut. Namanya Asha, aku tambahkan -lina di belakangnya supaya bagus aja. Wkwk. Sedangkan 'Nur' adalah nama titipan suami. Entah kenapa dia ngebet banget pakai nama Nur, baiklah aku setuju maknanya juga bagus. Yang terakhir 'Mardhiyyah' ini aku yang usul, aku ambil dari nama 'Ainul Mardhiyyah'. Dulu pas masih militan (wkwk) aku suka sekali mendengarkan nasyid, salah satunya nasyid yang berjudul 'Ainul Mardhiyyah' dari grup nasyid Unic. Yang katanya merupakan salah satu nama bidadari syurga. Cantik kan? Jadi, secara keseluruhan, Ashalina Nur Mardhiyyah artinya adalah:

"Perempuan cantik yang bercahaya bagai bidadari syurga"

Maasyaa Allah, cantik sekali bunyi dan maknanya. Keempat orang tua kami pun ikut memuji nama tersebut.

Tibalah saat melahirkan, next mungkin aku tulis detailnya yaa sebagai birth story. Lahirlah anak mungil tersebut dengan BB 3,5kg yang berhasil aku lahirkan secara pervaginam, alias aku bisa melahirkan normal setelah sebelumnya caesar.

Tepat di hari ke 21 kelahirannya, kami melaksanakan aqiqah untuknya, tunai sudah kewajiban kami sebagai orangtua saat itu. Alhamdulillah. Anak yang memiliki nama secantik rupanya kini telah lahir dengan selamat. Tanpa kurang suatu apapun.

Alhamdulillah.


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

Dikunjungi

Arsip

Pencarian

Media Sosial

  • Facebook
  • Threads
  • Instagram

Terbanyak Dilihat

  • Wajib Punya! Implora Day to Day Series
    Dua puluh empat jam sehari tampaknya tak cukup untuk memenuhi seluruh rencana kita sehari-hari. Tapi kalau pakai Implora Day to Day series i...
  • Tangkis Matahari dengan Perfect! Implora Perfect Shield Sunscreen
    Hai everyone! Hari gini siapa sih yang ga kenal sunscreen? Bahkan ibu mertuaku aja sudah aku perkenalkan dengan jenis skincare yang satu ini...
  • HINT Noble : Pilihan Aroma Parfum Mahal Khas Bangsawan di Era Modern
    Siapa yang suka penasaran sama parfum yang suka dipakai kaum bangsawan tuh kayak gimana sih? Apakah sama dengan kita kaum mendang mending? H...
  • Tips dan Trik Servis Motor
    Motor yang terawat akan mempunyai tarikan yang enteng dan tenaga powerfull sehingga bisa untuk menempuh beragam jenis jalanan. Tips dan trik...
  • Waspadai Anemia : Indonesia Bebas Anemia!
    Hallo generasi sehat bebas anemia! Sudah makan makanan bergizi hari ini? Kalau makan hanya sekedar makan, tidak cukup lho untuk mencegah an...

Kategori

  • Tulisan (59)
  • Nasihat Diri (39)
  • Kenangan (18)
  • Review (16)
  • Beauty (9)
  • My Pregnancy (8)
  • Kisah Perjalanan (6)
  • Jurnal Juni (4)
Diberdayakan oleh Blogger.

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates