Jurnal Juni: Hikmah di balik Penantian

by - Juni 16, 2026

Tak terasa waktu hampir memasuki tahun ajaran baru. Sedangkan anak lanangku belum tes siswa baru di sekolah barunya. Yap, tahun ini dia tepat berusia 6 tahun, kami memutuskan untuk memasukkan ia ke sekolah dasar. Untuk alasannya kenapa masuk SD-nya tidak 7 tahun saja, biarkanlah kami simpan hanya untuk kalangan sendiri. Cailah.

Karena hal demikian, aku dan anakku berangkat ke Cirebon menemui Abinya untuk lihat-lihat sekolah baru di sana. Jauh-jauh hari aku sudah pesan tiket kereta api jurusan Pasar Senen-Cirebon Prujakan.

Namun, tepat sehari sebelum keberangkatan, qadarullahnya ada berita duka. Terjadi kecelakaan di gerbong KRL dengan Argo Bromo Anggrek di stasiun Bekasi Timur. Awalnya aku mengira perjalanan KA jarak jauh akan terhambat atau dibatalkan. Namun, setelah memantau kanal media sosial resmi KAI, kereta yang akan aku naiki tidak termasuk yang dibatalkan perjalanannya. Aku berprasangka baik bahwa kereta akan berangkat sesuai jadwalnya.

Detik Demi Detik Menunggu di Stasiun

Keesokan harinya, aku dan anakku sudah tiba di Stasiun Pasar Senen, kondisi ramai tapi aku masih anggap wajar. Tapi setengah jam kemudian, penumpang membludak. Ternyata banyak kereta yang terlambat masuk stasiun karena terkendala kecelakaan semalam. Begitupun dengan keretaku, detik demi detik, jam demi jam, berlalu dihabiskan dengan menunggu.

Kipas angin di ruang tunggu stasiun Senen yang segede gaban itupun tak bisa menghalau sesaknya penumpang saat itu. Kami semua sedang menanti hal yang belum pasti. Aku tak diam saja, kuberanikan diri untuk bertanya ke petugas, katanya, "kereta akan tetap berangkat, namun sedang dalam antrian untuk masuk ke stasiun senen".

Baiklah, kami menunggu kembali.
Satu jam.
Dua jam.
Tak terasa akhirnya.
Hingga 5 jam.

Akhirnya Menyerah dan Pilih Refund Tiket

Aku menyerah menunggu, kereta yang harusnya berangkat pukul 08.55 WIB itupun belum juga datang. Aku yang sudah tiba di stasiun sejak pukul 7 pagi pun makin gusar. Masalahnya, aku berdua dengan anak. Jika sendiri, aku mungkin masih kuat menunggu.

Hamdalah selalu sedia pulpen di tas, ga perlu pinjem pulpen orang deh

Pukul 12 tepat aku bergegas ke loket di stasiun, mengajukan pembatalan perjalanan. Karena kereta sudah lewat jam keberangkatan, alhamdulillah aku dapat pengembalian dana 100%. Tapiiiiiii, tentu saja tetap rugi waktu dan biaya, karena ongkos bolak balik dari rumah ke stasiun tentu gak murah, bahkan lebih mahal dari tiket keretanya. Huhu.

Oiya, selama di Stasiun Pasar Senen, banyak media yang hadir wara-wiri meliput kondisi ramai penumpang kala itu. Baik dari media televisi maupun berita online. Aku yang saat itu duduk ngemper pun tak terhindarkan dari potret wartawan saat itu. Haha. Pulang dari stasiun, aku iseng cek berita dan ternyata ada foto aku dan anakku di sana. Ya ampun penumpang gabut.

Masuk CNN jalur penumpang ngemper

Hikmah di Balik Pembatalan Rencana

Akhirnya aku putuskan ke Cirebon naik bus saja dari Pasar Rebo keesokan harinya. Fyuh. Saat tiba di rumah, aku cari kabar di Thread ternyata keretaku tetap berangkat, namun keberangkatannya ba'da magrib yang dimana akan sampai di Cirebon sekitar jam 10 malam. Ahh tidak! Terlalu menyeramkan. Apalagi jika perjalanan hanya berdua dengan anak-anak.

Dari perjalanan ini aku belajar, bahwa tidak semua rencana kita harus terlaksana. Terkadang beberapa dibatalkan karena ada hal yang lebih baik untukmu, dan ada pelajaran di dalamnya. Terkadang juga di antara waktu menunggumu yang melelahkan itu ada pundi-pundi pahala yang mengalir berkat kesabaranmu dalam menunggu.

Ayulinsar | Condet 16 Juni 2026

You May Also Like

0 comments